Jumat, 27 Juni 2008


CHARACTER BUILDING
Untuk Sebuah Cinta dan Kesuksesan.
Oleh:Husain AM

Pernahkan Anda berpikir untuk menjadi orang yang sukses? menjadi orang yang kaya raya? Dan menjadi orang yang paling berpengaruh dilingkungan Anda, disegani dan dihormati?

Jawabnya adalah “ya….” !!! Karena setiap manusia pada dasarnya pasti menginginkan semua itu, kekayaan, jabatan dan kehormatan. Lumrah memang, karena keinginan itu adalah hal yang sangat manusiawi yang pasti ada dalam diri setiap orang.

Tapi pernahkan Anda berpikir lebih jauh lagi tentang aksesoris yang menghiasi kesusksesan Anda tersebut??

Seorang yang bijak tentu dia akan memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan ditimbulkan dari semua itu, apakah Dia dengan kekayaannya dan kehormatannya tersebut akan menghantarkannya kepada kemulyaannya disisi Allah atau justru dengan semua itu akan menghantarkannya ke dalam kemurkaan Allah.

Ke-dua hal inilah yang kadang terlupakan oleh sebagian orang para pemburu kekayaan dan kehormatan ini. Karena terkadang semua cara akan dilakukan untuk mewujudkan keinginannya, walaupun harus melanggar norma dan aturan yang telah Allah tetapkan. “Halal haram hantam”, itulah semboyan kehidupan yang dipakai oleh para pemburu kesuksesan ini.

Naif memang, kalau kita mengaku muslim tapi kita masih memiliki pola pikir seperti itu, menghalalkan segala cara untuk menggapai apa yang kita inginkan, sehingga al-qur’an dan as-sunnah hanyalah tinggal nama yang tidak memiliki nilai sakralitas sama sekali.

Sebagai seorang muslim tentu kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang syumul, agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, bagaimana cara bergaul, bagaimana cara berperilaku, bagaimana tatacara beribadah dan lain sebagainya. Allah sudah membuat scenario kehidupan ini untuk seluruh makhluknya. Dan kalau kita mengaku mencintai Allah, tentu kita akan mengikuti scenario yang telah Allah tetapkan tersebut meskipun terasa berat bagi kita. Sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Itulah yang harus kita camkan.

Allah berfirman:
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)



Antara Cinta dan Kesuksesan


Ada apa dengan cinta dan apakah cinta dapat menghantarkan kita kepada kesuksesan yang kita inginkan?? Kalau Ya, cinta yang seperti apakah yang dapat menghantarkan kebahagiaan dan kesuksesan tersebut?

Sekali lagi jawabnya adalah “Ya…” !!!. Cintalah yang akan mendorong seseorang untuk menjadi seorang pemenang. Cintalah yang akan membawa seseorang kepada kebahagiaan dan kesuksesan. Karena dengan cinta inilah orang akan melakukan apa saja demi orang yang dicinyanya. Ketika seseorang mencintai istrinya, maka dia akan melakukan apa saja demi membahagiakan istrinya, berkorban harta, waktu bahkan jiwa dan raga. Itu semua semata-mata demi istri tercintanya. Begitu juga ketika seseorang sudah mencintai Allah, maka dia akan melakukan semua permintaan-permintaan Allah dengan cara menjalankan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan untuknya. Sehingga dengan kekuatan cinta (the strange of love) inilah seseorang akan dapat menggapai apa yang dia harapkan.

Cinta yang Membawa Kesuksesan


Cinta ibarat dua mata pedang, kalau kita tidak berhati-hati dengannya kita bisa tergores oleh tajamnya pedang tersebut. Dengan cinta pulalah seseorang bisa terjerumus kedalam Neraka, namun dengan cinta pulalah seseorang bisa menikmati damainya hidup di Surga.

Cinta seperti apakah yang bisa membawa kesuksesan tersebut???
Bagi seorang muslim kesuksesan tidak hanya sebatas memperoleh kekayaan dan jabatan semata. Namun kesuksesan yang hakiki bagi mereka adalah ketika mereka bisa menggapai keridhoan dan kecintaan Allah. Allah berfirman:

“Hai orang-oang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih; berimanlah beriman kepada Allah,….” (QS:61:15)

Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa jual beli yang paling menguntungkan adalah jual beli dengan Allah, karena dengan berjual beli dengan Allah itulah seseorang akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda yang tidak akan Dia dapatkan jika berjual beli dengan selain Allah. Inilah yang melatar belakangi pemikiran seorang mu’min, bahwa hanya dengan kembali kepada Allah-lah kunci kesuksesan yang hakiki itu bisa diraih. Kunci-kunci kesuksesan yang dapat digunakan tersebut adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Ada tiga hal, apa bila ketiga hal tersebut ada pada diri seseorang maka dia akan dapat merasakan manisnya iman ini; hendaklah Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dicintai dari pada yang lain, hendaklah seseorang tidak mencintai dan membenci orang lain kecuali hanya karena Allah, hendaklah dia benci untuk menjadi kafir setelah dia beriman”.

Dengan ketiga hal inilah seorang muslim bisa merasakan manisnya iman, dan ketika seorang muslim sudah bisa merasakan manisnya iman ini maka kecintaan Allah dan keridhoan-Nya pun akan mereka dapatkan, dan itu berarti kunci kesuksesanpun sudah ditangan mereka.


Cinta yang Membawa Kehinaan.


Dimana ada siang, pasti ada malam. Dimana ada kesuksesan, pasti juga ada kegagalan.

Itulah sunatullah yang sudah Allah tetapkan beribu-ribu tahun yang lalu untuk makhluk-makhluk-Nya.

Demikian pula dengan “cinta”, selain bisa mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian, cinta juga bisa mendatangkan kesengsaraan dan kesedihan. Cinta bagi sebagian orang adalah kunci bagi kesuksesannya, namun bagi sebagian orang lain cinta justru sebagai awal dari mala petaka bagi dirinya.


Cinta seperti apakah yang akan membawa kehinaan tersebut???


Cinta yang berasal dari hawa nafsulah yang akan menjadikan seseorang hina bahkan lebih hina dari pada binatang ternak. Karena cinta yang berasal dari hana nafsu ini akan menjadikan sang-empunya lalai dan akan melakukan apa saja demi cintanya tersebut. Meskipun mereka memiliki mata, telinga dan hati, namun mata, telinga dan hatinya tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah SWT.


Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.
(QS. 7:179)


Ingatlah…..!!!
“Tarjun najâta walam tasluk masâlikahâ, inna syafînata lam tajri alal yabas”

Jika Engkau mengharapkan kesuksesan, maka titilah jalan untuk menuju kesuksesan tersebut. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kapal tidak akan pernah berjalan di atas daratan, akan tetapi kapal akan selalu berlayar di atas lautan.

Wallahu A’lam.



Rabu, 11 Juni 2008

MUSLIM HAKIKI DALAM PERSPEKTIF ILÂHI
(Orang INA Beragama Islam Vs Orang Islam Hidup di INA)
Oleh: Husain AM

Kata-kata muslim merupakan suatu kata yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut terucap dari lisan para Ulama’, cendekiawan muslim, politikus, maupun dari masyarakat pada umumnya yang lengkap dengan atribut dan ciri khas yang melekat padanya. Baik yang bernada positif maupun negative, seperti kaum terorisme, konservatif, fundamentalis, ekstrimis kanan dan lain sebagainya.

Dari stigma-stigma negatif terhadap Islam itulah yang nantinya akan merusak citra Islam dimata kaum muslimin dan orang-orang kafir yang tidak paham akan Islam yang sebenarnya.

Kalau kita membaca sekilas tentang judul di atas, mungkin kita akan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kalimat di atas, sehingga tidak perlu dipermasalahkan karena pada dasarnya mereka sama, yaitu Islam. Itulah pemikiran dan pendapat masyarakat pada umumnya.

Sekilas memang benar apa yang dikatakannya tersebut. Namun kalau kita paham hakikat Islam yang sebenarnya, kita akan medapatkan titik perbedaan yang sangat mendasar (principle) antara orang Islam yang hidup di INA dengan orang INA yang beragama Islam. Dan ke-dua hal tersebut tidaklah sama, bagaikan madu dan racun.

Oleh sebab itu timbulah suatu pertanyaan; Dimanakah letak perbedaannya tersebut, Kalau memang benar-benar berbeda???

Pertanyaan seperti ini akan muncul setiap saat ketika kita mengatakan tidak sama antara OIN (orang INA beragama Islam) dengan OIS (orang Islam hidup di INA).

Untuk mejawab pertanyaan tersebut, harus dipahami terlebih dahulu tentang hakikat Islam. Ibrahim (1985) dalam mu’jamul washit mengatakan kata Islam merupakan bentuk masdar dari kata; aslama-yuslimu-islaaman yang bermakna istislaam yang berarti; berserah diri dan tunduk kepada Allah SWT.

Sehingga seorang muslim (Islam) ini akan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya dan menjadikan syari’at-Nya sebagai tuntunan dan pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Dalam hal ini Allah menegaskan dalam surat An-Nisa’: 59.
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Allah juga berfirman:
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(QS. 33:36)

Dari ke-dua ayat diatas nampak jelaslah perbedaan antara OIN dan OIS. Hal ini dapat dibuktikan dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat kita (-Indonesia-) yang lebih mengedepankan hawa nafsu serta adat dan budaya mereka dari pada syaria’at Islam. Sehingga ketika mereka mendapatkan (-dalam ajaran Islam-) suatu perintah yang bertentangan dengan budaya dan adat mereka. Maka mereka akan memilih budaya warisan nenek moyang mereka dari pada syaria’at Islam yang hanif ini.

Padahal Allah telah memperingatkan mereka bahwa kebanyakan dari nenek moyang mereka adalah orang-orang bodoh yang buta akan kebenaran.

Dan apabila dikatakan kepada mereka:"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab:"(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk". (QS. 2:170)

Selain itu Allah juga menegaskan dalam ayat yang lain:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116)

Itulah kenyataannya, mereka akan memilih nenek moyang mereka dari pada Allah, padahal sudah nampak kebodohan dan kesesatan pada diri nenek moyang mereka.
Bodoh memang orang-orang yang lebih memilih nenek moyang mereka atau segala sesuatu selain dari pada Allah dan Rasul-Nya, padahal nampak jelaslah kedamaian dan keselamatan jika kita mau berpegang teguh kepada buhul Allah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara dan jika kalian berpegang teguh kepada ke-daunya maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya;
al-qur’an dan sunnah”. (HR Bukhari)

Inilah yang membedakan antara OIN dengan OIS, karena orang Islam yang baik adalah dia akan lebih mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dari pada yang lainnya; tidak terkecuali Orang Tua, Anak-anak mereka atau bahkan Pemimpin-pemimpin mereka. Dan mereka (-OIS-) akan lebih mengedepankan Al-qur’an dan Hadits dari pada aturan-aturan (UU) buatan Thaghut, serta tidak mengharamkan kecuali apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak pula menghalalkan kecuali apa-apa yang dihalalkan oleh Allah.

Katakanlah:"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, (QS. 6:162)

Dan seorang muslim yang baik dia akan mengatakan:

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)


### Wallâhu A’lam Bis Showâb ###

Senin, 02 Juni 2008

SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH SHOLIHAH


1. Menutup Seluruh Aurat
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Sebagian ulama berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya.

2. Longgar Dan Tidak Ketat
Tidak dibenarkan bagi seorang muslimah mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, sekalipun pakaian itu menutupi seluruh permukaan kulit anda.

3. Tidak Transparan
Pakaian yang tranparan adalah pakaian orang-oarang fasik, maka seorang muslimah yang sholihah tentu akan memilih pakaian dengan bahan yang rapat dan tidak tranparan.

4. Warna Pakaian Tidak Mencolok
Pakaian terbaik bagi wanita adalah dari bahan yang polos dengan warna yang teduh. Hindarilah pakain yang banyak hiasannya, baik corak yang berwarna-warni maupun yang berenda, karena akan menjadi perhatian orang lain. Hindari pula warna merah polos atau kuning polos, karena Rosulullah e tidak menyukainya.

5. Tidak Meyerupai Pakaian Laki-Laki
Allah dan Rasul-Nya melaknat wanita yang meyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan, misalnya dalam berpakaian baik itu celana panjang, berkaos oblong (kecuali untuk pakaian dalam ) dan sebagainya.

6. Tidak Berparfum
Rosulullah e adalah orang yang paling meyukai wewangian, namun beliau melarang wanita yang keluar rumah dengan berparfum.
Wanita muslimah boleh berparfum di dalam rumah, terutama bagi seorang istri untuk menyenangkan suaminya, selama tidak ada laki-laki lain yang bukan mahromnya.

Hal-Hal Lain Yang dilarang Bagi Wanita Seputar Berpakaian dan Berhias

1. Bersanggul
2. Menyambung rambut
3. Memotong rambut kepala hingga pendek
4. Mencukur alis
5. Mencabut bulu mata
6. Memakai make-up berlebihan
7. Berpakaian dengan berlebihan
8. Dll, di luar ketentuan Syar’i.

SEPUTAR KEBAYA

Kebaya memiliki beberapa keburukan di antaranya :
1. Kebaya biasanya dibuat pas dengan ukuran dan bentuk tubuh, sehingga lekuk-lekuk tubuh orang yang mengenakannya akan tampak

2. Kebaya biasanya terbuat dari bahan tembus pandang, sehingga aurat yang mestinya ditutup rapat justru menjadi mudah di lihat

3. Kebaya biasanya berpasangan dengan :

a. Konde dan Sanggul, padahal Allah dan Rosul-Nya melaknat wanita yang bersanggul dan menyambung rambut, karena itu adalah sifat penghuni neraka.

b. Kain jarik yang dililit kuat sehingga bentuk tubuh bagian bawah terutama pinggul akan nampak semakin jelas.

c. Make-up yang berlebihan agar orang lain dapat menikmati wajah yang sudah dipoles dengan bermacam-macam alat kosmetik, padahal semestinya seorang wanita sholihah selalu menjaga wajah dari pandangan laki-laki lain yang bukan mahramnya.

SEPUTAR GAUN dan RIAS PENGANTIN

Gaun dan Rias pengantin memiliki banyak keburukan diantaranya :
1. Bahan yang berlebih-lebihan.
2. Bersanggul dan menyambung rambut.
3. Ber-make-up yang berlebihan.
4. Mencukur alis dan mencabut bulu mata.
5. Diperlihatkan di depan khalayak umum dll.

Keadaan seperti ini dapat anda lihat terutama saat para wanita berhias diri untuk menyambut tamu dalam resepsi pernikahan atau pesta lainnya

Kepada wanita muslimah aku bertanya:
1. Apa cita-cita ahir hidup Anda ?
2. Bukankah Anda mendambakan Syurga yang didalamnya penuh dengan kenikmatan dan kedamaian ?
3. Lalu dengan apa Anda mau meraih Syurga yang indah itu ? Apakah……
- Dengan meninggalkan sholat ?
- Dengan melupakan tugas dan kewajiban sebagai seorang wanita muslimah ?
- Atau dengan pakaian tipis dan berparfum saat keluar rumah ?
- Ooo… dengan bercelana panjang dan kaus oblong atau pakaian lain seperti laki-laki ?
-Dengan kebaya, tusuk konde, sanggul, serta kain jarik yang melilit tubuh dan wajah yang penuh dengan bahan kosmetik ?
- Dan dengan berbagai macam perbuatan yang malanggar aturan Allah dan Rosul-Nya ?
- Sudah yakinkah Anda bahwa dengan cara tersebut Anda akan mendapatkan syurga ?
-Tidak cukupkah wahyu Allah dan sunnah Rosul-Nya sebagai aturan hidup, sehingga harus mengikuti cara hidup orang-orang fasik?