Selasa, 27 Mei 2008

HUKUM WANITA KARIR DALAM TINJAUAN SYAR’I

1. Moqodimah

Segal puji bagi Allah Robb semesta alam, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rosulullah e, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti manhaj beliau sampai hari kiamat.
Sungguh nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat islam dan hidayah untuk mengikuti syareat Rosululloh e, karena perkara yang di kandung oleh syareat ini berupa kebahagiaan di dunia dan ahkerat.
Tidak diragukan lagi bahwa islam datang untuk menjaga kemuliaan dan memelihara kemuliaan wanita dan menempatkanya pada tempat yang sesuai, dan islam menjauhkan wanita dari perkara yang dapat memburukan dan mencemari kemuliaannya. Islam juga telah memerintahkan kepada wanita untuk selalu menjaga kesopanan dalam pakaiannya dan mewajibkan untuk berhijab, karena dengan berhijab dirinya akan lebih terjaga dan lebih suci.
Kalau kita perhatikan realita hari ini, sungguh sesuatu yang meyedihkan dan memilukan dengan apa yang di perbuat oleh sebagian kaum wanita, mereka mempertontonkan perhiasan, menampakkan keindahan tubuh mereka di hadapan para lelaki yang bukan mahhromnya, dan mereka keluar ke pasar-pasar dengan bersolek dan memakai wewangian, bercampur dengan para lelaki yang bukan mahronya. Ini semua merupakan fitnah yang besar yang dapat menghancurkan sendi dan bangunan umat islam.
Mudah-mudahan dengan tulisan ini, mampu menggugah kesadaran kita tentang hukum wanita karir yang di tinjau dari segi syareat islam, dampak positif dan negatifnya, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh umat islam.

II.Kedudukan Wanita Dalam Islam
Islam sangat menghormati dan memuliakan wanita dengan penghormatan yang sangat luhur serta mengangkat martabatnya dari keburukan dan kehinaan, dari penguburan hidup-hidup dan perlakuan buruk ke kedudukan yang mulia dan terhormat, sebab wanita menjadi ibu dan sebagai istri yang harus di perlakukan dengan lemah lembut.
Seorang mu’minah yang teguh dengan ketaatannyaa, maka Allah telah menyediakan baginya seperti apa yang telah di sediakan bagi kaum mu’minin, tidak ada perbedaan dalam hal ini, sebagai mana firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”.
[QS An-Nahl: 97]

Allah Ta’ala menciptaka kaum wanita dengan susunan yang sangat berbeda dengan susunan tubuh kaum laki-laki, Allah mempersiapkan wanita untuk bekerja di dalam rumah dan sifat pekerjaan yang sesuai dengan kewanitaannya. Di dalam hadits Rosulullah e bersabda :
“ Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah“.
[HR Muslim].

Islam telah menentukan kewajiban-kewajiban tersendiri bagi masing-masing laki-laki dan wanita, dan masing-masing di tuntut untuk melaksanakan perananya, sehingga dengan begitu bangunan masarakat akan sempurna baik di dalam maupun di luar rumah, laki-laki di tuntut untuk mencari nafkah, sementara wanita di tuntut untuk mendidik anak-anaknya, memberi perhatian, kasih sayang, menyusui, dan mengasuhnya.

III. Sejarah Keluarnya Wanita

Kaum Yahudi dan Nasrani, Rahib dan para Pendetanya telah berusaha menhancurkan tatanan keluarga muslim, dan usaha yang mereka gunakan untuk menhancurkannya adalah dengan merusak kaum wanita, demikian ini terjadi semenjak masuknya kaum penjajah ke negara-negara islam, kemudian usaha mereka di lanjutkan oleh Dhoimer dengan mengadakan kongres kemanusiaan pada tahun 1908, dimana pada saat itu ia menganjurkan kependetaan dan kerahiban, kepada teman-teman dan para murid-muridnya, agar mereka berusaha mengajak para wanita muslimah untuk keluar dari rumah-rumahnya dan merusak hubungan dengan suaminya, orang tua, dan anak-anaknya, dan di jelaskan olehnya ( Dhoimer ) bahwa jalan terbaik untuk menjatuhkan islam adalah dengan merusak para wanitanya. (Insklopedi wanita muslim: 1-2).
Untuk itulah musuh-musuh islam tidak segan-segan menggunakan berbagai macam media dan sarana-sarana informasi untuk menggambarkan wanita dalam wujud godaan yang paling indah, sekali waktu wanita di tampilkan dalam fose telanjang, pada waktu lain di tampilkan sebagai penari, dan pada kesempatan yang lain di tampilkan sebagai penyayi, untuk itulah mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang ada.
Zumer (seorang kristen ) mengatakan: “Orang-orang kristen tidak boleh putus asa, karena di dalam hati kaum muslimin benar-benar telah berkembang kecenderungan yang cukup mencolok terhadap ilmu barat dan kebebasan wanita”.
Anna Milgan (missionsris kristen) mengatakan: “Tak ada jalan yang lebih pendek untuk merobohkan islam dari pada keluarnya wanita muslimah tanpa menutup kepala dan berpakaian tidak senonoh “. [Ensiklopedi wanita mislimah: 2]

IV. Sebab-Sebab Wanita Keluar Rumah

1. Makar Yahudi dan Nasrani denga berdalih kebebasan
Mereka kaum yahudi dan nasrani pasca abad kebangkitan industri di Eropa, tidak henti-hentinya menggembor-gemborkan kebebasan wanita. Arti kebebasan yang mereka maksudkan adalah melepaskan diri dari belenggu rumah.
Ungkapan kebebasan kemudian berkembang dan meningkat sehingga artinya menjadi keluarnya wanita dari rumahnya untuk beraktifitas persis seperti kaum laki-laki, tanpa mengindahkan struktur fisiknya dan kekuatan tubuhnya.
Kaum wanita gembira dengan ke ikut-sertaannya dengan kaum pria dalam seluruh aktifitas kaum pria, mereka menuntut emansipasi dan kebebasan wanita, tragisnya kaum wanita tidak tau bahwa apa yang mereka serukan tiada lain adalah perangkap yang telah disusun oleh kaum yahudi dan nasrani.

2. Dampak ekonomi
Abul A’la Al-Maududi berkata: “diantara dampak yang di timbulkan oleh sistem kapitalis adalah wanita menjadi penghambat bagi suaminya, anak-anak menjadi beban bagi ayahnya, orang-orang menjadi induvidualisme hanya memperhatikan dirinya sendiri dan tidak memperhatikan orang lain, kondisi perekonomian menuntut setiap orang untuk bekerja mencari nafkah, sehingga lapisan masyarakat baik kaum wanita maupun laki-laki mereka harus keluar rumah untuk bekerja.
Seorang ilmuan berkebangsaan inggris Samuel Simels, dengan jujur mengatakan “sesungguhnya semua sistem yang mengatur supaya wanita sibuk bekerja di industri-industri, sekalipun hal tersebut menjanjikan kesejahteraan, akan tetapi ia akan berakibat merobohkan mahligai rumah tangga, mengoyak-ngoyak berbagai ikatan sosisal, dan merampas istri dari suaminya dan anak-anaknya. Akibatnya secara fisik sistem ini tidak menghasilkan apa-apa selain dari pada merendahkan akhlak dan moral wanita. [hukum wanita dan keluarga: 3].

3. Dangkalnya mereka terhadap nilai-nilai islam
Peyebab utama yang mendasari seorang wanita keluar rumah adalah karena mereka kurang mengerti hakekat dan peranannya dalam menciptakan generasi-generasi islam masa mendatang, sehingga hari-hari mereka di habiskan diluar rumah hanya ingin mencapai ekonomi yang makmur saja, ini semua di karenakan dangkalnya pemahaman kaum wanita mengenai nilai-nilai Ad-dien itu sendiri.

V. Dalil-Dalil Di Syareatkan Agar Wanita Tinggal Di Rumah

Allah berfirman:
Artinya: “Tetaplah para wanita tinggal di dalam rumah mereka dan janganlah bertabaruj seperti orang jahiliah“. [QS Al-Ahzab: 33]

Ibnu Katsir berkata: “Tetaplah para wanita tinggal di dalam rumah, maka janganlah mereka keluar rumah kecuali ada keperluan syar’i ”. [Tafsir Ibnu Katsir: 3/450].
Imam As-Syaukani mengatakan: Sesungguhnya maksud ayat diatas adalah: “Allah memerintahkan kepada mereka (wanita) agar tinggal dan tetap di dalam rumah, dan bukanlah wanita itu sebagai penyejuk pandangan. [Tafsir Fathul Qodir:4/347].
Umar bin Khotob berkata: “Sederhanakanlah atas wanita dalam berpakaian, sesungguhnya salah seorang dari mereka apabila memiliki pakaian dan perhiasan yang bagus maka akan membuat ia senang keluar rumah”. [Fathul Qodir:4/347].

VI. Dampak Negatif Wanita Bekerja Di Luar Rumah

1. Menelantarkan putra-putrinya
Mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perawatan dan pendidikan langsung dari ibu. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

“ Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia menjaga kepemimpinan itu atau melalaikannya, sehingga orang laki-laki di tanya tentang anggota keluarganya “. As-Silsillah Ahadits As-Shohihah: 1636]

WHO (badan kesehatan dunia) mengatakan: “bahwa setiap anak membutuhkan pendidikan yang terus menerus dari ibunya selama tiga tahun, maka akan kita dapatkan bahwa ibu-ibu akan sibuk dengan pendidikan anak-anaknya dan tidak ada waktu bagi mereka untuk keluar dari rumahnya. [Wanita karir dalam tinjauan: 108].

2. Bercampur baur dengan laki-laki
Dalam sebuah hadits Rosulullah bersabda :
“ Tidaklah aku tinggalkan setelah ku nanti suatu fitnah yang lebih berbahaya dari pada wanita“. [HR Bikhori dan Muslim]

3. Para wanita yang bekerja di luar rumah, mereka pada umumnya melepaskan jilbab. Mereka sering bepergian dan memakai parfum atau make up yang dapat mengoda syahwat kaum laki-laki.

4. Wanita yang bekerja di luar rumah dapat menghilangkan sifat dan naluri keperempuannya. Hilangnya kasih sayang terhadap anak-anaknya dan tidak akan ada keharmonisan dalam rumah tangganya.

5. Membuka pintu-pintu perzinaan atau perkara-perkara yang menjurus kejurang perzinaan, karena pada hakekatnya wanita keluar rumah itu akan mengundang fitnah atas dirinya maupun orang lain. [Esiklopedi wanita muslimah: 160

VII. Syarat-syarat di Perbolehkannya Wanita Bekerja di Luar Rumah

1. Mendapatkan izin dari walinya, yaitu ayah atau suaminya untuk suatu pekerjaan yang halal, seperti menjadi tenaga pendidik para siswi atau menjadi perawat khusus wanita.
2. Tidak bercampur baur dengan laki-laki atau melakukan kholwat dengan laki-laki yang bukan mahromnya.
3. Tidak bertabarruj dan menampakan perhiasan yang dapat mengundang fitnah. Menurut Syeikh Al-Maududi, kata tabarruj bila di kaitkan dengan wanita memiliki tiga pengertian:
a. Menampakan keelokan tubuhnya dan bagian-bagian tubuh yang lain yang dapat membangkitkan birahi
b .Memamerkan pakaian dan perhiasan yang indah di hadapan kaum laki-laki yang bukan mahrom.
c. Memamerkan diri dan berjalan dengan berlenggak-lenggok di hadapan kaum laki-laki. [Al-Hijab: 290.

Menurut para ulama’ bahwa tabarruj itu hukumnya adalah haram. [Ensiklopedi Wanita muslimah: 153].

4. Tidak memakai parfum yang menyengat hidung atau parfum yang bisa membangkitkan birahi.
5. Memakai hijab menurut ketentuan syar’i
VIII. Kendala-Kendala Wanita Bekerja Di Luar Rumah

Pekerjaan seorang wanita di luar rumah pada hakekatnya adalah siksaan bagi dirinya, walaupun hal tersebut nampaknya tidak terasa, karena seorang wanita tidak mampu bekerja atau melakukan pekerjaan sebagaimana kaum laki-laki. Di antaranya adalah:

1. Karena haid, pada waktu haid seorang wanita harus beristirahat dan tidak boleh membawa beban yang berat agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merusak kesehatan dirinya.

2. Karena hamil, dalam kondisi tersebut seorang wanita merasakan lelah sehingga ia tidak mampu bekerja berat.

3. Karena nifas (melahirkan), dalam kondisi tersebut seorang wanita juga merasakan berbagai kesulitan dan tubuhnya merasa lemah, dia kehilangan darahnya, oleh sebab itu, dia tidak boleh di bebani pekerjaan yang memberatkan.

4. Menyusui dan merawat anak, selama dua tahun seorang ibu harus merawat bayinya, selalu menyertainya, mengurusi segala kebutuhannya, dan mendidiknya, di samping itu dia masih harus menangani pekerjaan rumah demi berlangsungnya kebahagiaan rumah tangganya, dan jika hal itu ia tinggalkan, maka ia akan menjadi bencana bagi seluruh keluerganya.

5. Susunan tubuh, tubuh seorang wanita yang hamil, melahirkan anak serta menyusuinya, pastilah sangat berbeda dengan tubuh seorang laki-laki yang tidak menaggung beban semua itu. [Ensiklopedi wanita muslimah: 165]





IX. Penutup

Demikianlah sedikit penjabaran tentang “hukum wanita karir dalam tinjauan islam”. Semoga sedikit ulasan ini bisa mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki sendi-sendi keimanannya yang sudah mulai roboh akibat arus globalisasi dan hedonisme ini.


Referensi :

Al-Qur’an Al-Karim
Shohih Muslim
Ensiklopedi wanita muslimah
Wajah dunia islam
Tafsir Al-Qur’anul Ad-adzim, Ibnu Katsir
Fathul Qodir, Imam Syaukani
Wanita karir dalan tinjauan Al-Qur’an dan As-sunnah
Al-Hijab, Abul A’la Almaududi.







Dunia Mata’un
Qolil & Ghurur

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Siapa yang ingin mencari jalan hidup carilah jalannya orang-orang yang telah mati (Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in). Karena hati mereka lebih bersih, ilmu mereka dalam, mereka lebih paham betul tentang ajaran islam dan lebih dekat dengan Nabi. Siapa yang mencari jalan hidup pada orang-orang yang masih hidup, ingat mereka itu tidak lepas dari jeratan fitnah. (Syareh Aqidah At-Thohawiyah, Muhammad ibnu Abi Al-Izz Ad-Damasky: 546).
Suatu saat Nabi Muhammad e berjalan dengan sahabat, di tengah pertemuan ia menemukan bangkai kambing yang cacat. Lalu bangkai itu ia tawarkan kepada Sahabat.” Siapa yang mau membali bangkai ini,“ para sahabat balik bertanya: “Ya Rosulullah, siapa yang mau membeli bangkai tesebut? ”Rosulullah e menjawab: “Nah, ingatlah dunia itu lebih hina dari pada bangkai itu“.

Allah berfirman:

Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri, itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat”.
[QS Al-Imron : 196-197].

(Lihat juga surat Al-Imron: 185, dan surat An-Nisaa’: 77.)

PERKATAAN ULAMA’

1. Imam Al-Qurthuby: “Orang-orang kafir memiliki putaran operasi bisnis dan harta kekayaan yang besar di suatu negri, sehingga sendi ekonomi kaum muslimin sempat goyah, lalu turunlah ayat ini agar orang musalim tidak terpedaya oleh orang-orang kafir. [Tafsir Al-Qurthuby, Imam Qurthuby, 4 / 319-320]

2. Imam Al-Alusi: “ada yang mengatakan kondisi ini karena pengaruh global program orang-orang yahudi. [Tafsir Ruhul Ma’any, Imam Al-Alusi, 2 / 171-172].

MATA’UN QOLIL DAN GHURUR MERUPAKAN SIFAT DAN KEADAAN DUNIA

Didalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa sifat dunia selalu di iringi dengan kata-kata mata’un qolil dan mata’ul ghurur yang mempunyai arti:

1. Suatu yang sedikit, akan lenyap dan hilang.
2. Cepat hancur
3. Imam Qotadah mengatakan: “Kenikmatan yang remeh, demi Allah jika ia dimiliki seseorang nantinya akan runtuh, maka ambilah kenikmatan itu untuk selalu taat kepada Allah semampu kamu.

4. Ali bin Abi Tholib: “halus-lembut-lunak jika di pegang dan racunnya cukup mematikan, dalam riwayat yang lain beliau meyebutkan: “Nampaknya menjanjikan kebahagiaan padahal di dalamnya mencelakakan. [Ibid,2/146-147]

5. Said Hawa mengatakan: “Remeh kondisinya, hina perkaranya, sedikit, rusak,dan hilang nantinya. [Tafsir Asasut Tafsir, Said Hawa, 2 / 96]


6. Imam Al-Qosimi: “Kenikmatan yang sedikit karena waktunya hanya sekejab. Kondisinya jelas-jelas akan rusak dan hilang, maka orang-orang mukmin yang telah dijanjikan oleh Allah berupa kehidupan ahkerat (surga) ia tidak akan tertarik sama sekali dengan mata’un qolil itu. [Tafsir Al-Qosimi, 4/329].

7. Said bin Jubair: “Dunia itu mata’ul ghurur artinya kenikmatan yang melengahkan manusia menuju kehidupan ahkeratnya. [Jamiul ulum wal hikam, Imam Ibnu Rojab, 2 /193].



PERINGATAN ULAMA’ TENTANG DUNIA

1. Iman Ahmad: “Suatu hari yang membahagiakan adalah saat di pagi hari, rumah keluargaku tidak punya apa-apa (makanan, miniman, dll)”.

2. Basyr bin Al-Harits: “Siapa cinta dunia, sebenarnya ia hanya kan memperpanjang hisab di hadapan Allah di hari kiamat nanti “.

3. Hasan Al-Basri: “Sebaik-baik dunia adalah dunia yang di isi oleh orang-orang beriman, karena ia mengambil hanya sedikit dan dijadikanya sebagai bekal ke ahkerat. Seburuk-buruk dunia adalah dunia yang di isi oleh orang-orang munafiq, karena mereka mensia-siakannya dengan dosa, dan mereka gunakan untuk menabung bekal ke neraka.

Wallahu a’lamu


THE ISLAMIC METHODE OF COVERING
THE ENGER;
BAGAIMANA ISLAM MENGATASI SIFAT MARAH

Oleh: Husain, AM.


I. Hakikat Marah
Marah merupakan gejala emosional yang muncul dari dalam diri seseorang. yang kemudian nampak ke permukaan dalam berbagai bentuk perwujudaannya. Menurut imam Al-Ghazali, marah adalah nyala api yang bersumber dari api Allah, menyala berkobar-kobar menjulang tinggi sampai naik ke ulu hati, dan akhir muncul dalam bentuk gejala-gejala fisik baik dari perubahan warna muka, mata, telinga, sangat gugup, anggota badannya gemetar, gigi yang gemeretak, jalan mondar-mandir, lubang hidung membersar dan mengecil, dan mulut yang selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak terkendali.
Situasi seperti ini sangat eksplosif, berbahaya yang dapat menimbulkan akibat yang tidak disangka-sangka, karena ketika seorang yang sedang marah melihat benda-benda apa saja yang berada dihadapannya maka dia akan berusaha untuk menjamahnya dan menjadikannya sebagai sarana untuk melampiaskan kemarahannya.
Johanes Papu (2003) mengatakan Kemarahan pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti pernah dialami oleh semua individu. Di satu sisi manusia memang harus melepaskan semua amarah yang ada di dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi lain tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut, sebab jika tidak maka hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang mengendalikan hidupnya. (http://www.e-psikologi.com/konseling/profil.htm) .
Amarah merupakan bara dari api neraka yang di hembuskan oleh Setan kepada diri seseorang, ketika seseorang sedang dilanda suatu amarah berarti dia sedang disusupui oleh setan. Karena sebenarnya manusia tercipta dari Dua unsur yang tidak mempunyai sifat panas yang dapat menciptakan rasa marah tersebut, unsur manusia paling awal di dunia ini diciptakan dari tanah "min thin", yang kemudian di sempurnakan penciptaannya oleh Sang Pencipta dengan ditiupkan ruh kedalamnya. Allah berfirman dalam Surat As-Sajdah 7-9:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32:7-9)
dan didalam potongan sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda tentang proses penciptaan manusia setelah manusia pertama Adam as diciptakan:
" sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya empat puluh hari dalam bentuk mani, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula(40 hari), kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya. (HR Bukhori dan Muslim).
Kedua unsur "tanah dan ruh" inilah yang memberi ciri manusia yang secara simbolik selalu terombang ambing untuk jatuh ketanah (menjadi manusia berkepribadian rendah) atau naik menjadi manusia yang berkepribadian tinggi. Amarah adalah akibat dari unsur yang terdapat dalam api, Sifat keadaan tanah adalah diam dan tenang, sedangkan sifat keadaan api adalah panas, membara, bergerak-gerak dan meliuk-liuk. Ada pepatah yang mengatakan " jauhilah marah karena ia bisa merusak iman, sebagaimana racun yang bisa merusakm madu".
Orang yang sedang marah pada hakikatnya dia sedang di rasuki oleh hawa setan. Sebagaimana sudah dijelaskan diatas bahwa marah adalah sifat yang ditimbulkan dari unsur api, sedangkan unsur api itu terdapat pada setan dan tidak terdapat pada manusia.
" sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan ari api" ( HR Abu Daud, Ahmad dan Al-Baghawy)
Perlu diketahui bahwa hakekat marah adalah darah yang berada didalam hati yang mendidih karena mencari pelampiasan. Ketika seorang marah maka api amarahnya berkobar dan membuat darah yang berada didalam hatinya mendidih, lalu menyebar keseluruh nadi dan naik keseluruh badan, sebagaimana air yang naik ketika mendidih. Karena itu wajah, mata, dan raut mukanya terlihat memerah ketika marah. Semua itu mencerminkan merah darah yang tersembunyi di baliknya dan darahnya mulai turun jika amarahnya telah tertumpah kepada orang lain dan dia pun merasa tenang kembali.
II. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Orang Marah
Sangat manusiawi sekali orang yang mempunyai sifat marah. Orang akan lebih mudah marah bila dia merasa terganggu dengan tindakan orang lain yang dia anggap tidak mengenakannya. Biasanya sikap marah ini dia tunjukan sebagai respon terhadap tingkahlaku orang lain dengan raut muka yang tidak mengenakan untuk dipandang mata, perkataan ketus dan tidak enak didengar telinga.
Menurut Johanes Papu faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri seseorang (internal). Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu individu untuk marah. Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun kenangan pahit di masa lalu.
Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan.
Selain faktor diatas ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang sekali menjadi marah, dan dapat dibagi kedalam beberapa faktor sebagai berikut:
1. Genetik
Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun kehidupan sang anak. Pada anak-anak kemarahan bisa timbul karena adanya pengekangan yang dipaksakan. Biasanya kemarahan anak-anak tersebut timbul sebagai sambutan terhadap perasaan jengkel dan mendongkol yang telah menumpuk-numpuk. Semakin kecil seorang anak, semakin banyak pula persentase marahnya. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan anak dan bertambahnya usianya maka sedikit-demi sedikit persentase kemarahannya pun akan menurun.
Orang tua yang terlalu teliti dan telalu khawatir terhadap anaknya dapat menimbulkan rasa ketidaksukaan anak. Anak merasa sangat terhambat dalam pelaksanaan keinginan-keinginannya, yang kemudian mengakibatkan kemarahan anak. Sikap yang terlalu teliti lebih-lebih dalam mencari kesalahan dan kekurangan anak, sering menimbulkan perasaan putus asa anak yang mengandung sifat-sifat dendam yang tersalur melalui kemarahan.
2. Sosial-Budaya
Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.
3. Latarbelakang Keluarga
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang pula (workplaceblue.com). (http://www.e-psikologi.com/konseling/profil.htm) .
Novako (1986) mengemukakan bahwa amarah bisa dipahami sebagai reaksi terhadap suatu tekanan perasaan. Pada dasarnya adalah bahwa orang cenderung menjadi marah dan terdorong menjadi agresif jika terganggu. Novako berpendapat bahwa bukan hanya tekanan ekternal itu sendiri yang menimbulkan sifat marah, melainkan perasaan negatif yang ditimbulkan oleh tekanan itulah yang menghasilkan kecenderungan agresif dan marah.
III. Solusi untuk mengatasi sifat marah
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa obat setiap penyakit adalah mengkikis habis virus-virusnya dan menghilangkan faktor-faktor penyebabnya. Sedangkan sebab-sebab yang dapat membangkitkan rasa marah adalah: kesombongan, ujub, sendau gurau, kesia-siaan, pelencehan, pencibiran, perdebatan, pertengkaran, ambisi kepada harta dan jabatan dan lain sebagainya. Kesemuam itu adalah akhlaq yang buruk dan tercela dalam agama, dan orang tidak akan bisa terhindar dari sifat amarah selagi sebab-sebab tersebut masih ada pada dirinya.
Orang yang sedang marah dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan : (1) Low profile, (2) Hight profile, dan (3) Middle profile. Hight profile merupakan sifat yang tidak terpuji karena bisa membuat akal dan agama tidak tertata, sehingga dalam keadaan ini manusia tidak bisa memandang secara jernih, dan tidak bisa berpikir yang rasional. Orang-orang hight profile adalah orang yang selalu diperbudak oleh amarahnya, dia tidak bisa mengendalikan amarah yang sedang melanda dirinya.
Sementara low profile juga tercela karena tidak mempunyai kehormatan dan rasa cemburu, itu semua disebabkan karena ketidakadanya rasa amarah sama sekali dalam dirinya. Dan yang paling terbaik adalah golongan middle profile, golongan yang bisa menempatkan dan mengendalikan amarahnya. Dia tahu kapan dia harus marah dan dia juga tahu kapan sebaiknya dia harus bersikap lemah lembut.
Sifat marah tidak semuanya jelek dan salah, ada situasi-situasi tertentu yang justru memerlukan sifat marah ini. Sebagai salah satu contoh, ketika ada pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW dengan membuat kalikatur tentang Beliau, maka seharusnya dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk marah kepada pembuat kalikatur tersebut. Ketika dia tidak marah atau dia besifat acuh tak acuh saja dengan keadaan tersebut, maka sesungguhnya keimananya harus dikoreksi lagi. Karena sudah jelas hukum bagi orang yang menghina Nabi Muhammad SAW, mereka sudah kafir (murtad) dengan perbuatan mereka sendiri walaupun mereka memakai seribu alasan untuk mendukung perbuatan mereka, dan hukuman bagi orang yang telah keluar dari agama adalah diminta untuk bertaubat. Akan tetapi, jika dia enggan maka hukuman yang pantas baginya adalah dibunuh. Allah berfirman :
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab:"Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah:"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.
(QS. 9:66)
Rosulullah SAW bersabda:
" barang siapa yang telah menggati agamanya (murtad) maka bunuhlah dia." (HR Bukhori)
Jika seseorang sudah dikuasai sifat marah, maka semua tingkah lakunya akan sulit untuk dikendalikan lagi. Yang ada dalam benaknya adalah kemana dan bagaimana dia bisa melampiaskan rasa jengkel dan marahnya tersebut. Sifat marah tidak bisa dihilangkan dari diri seseorang, akan tetapi ketika seseorang sedang mengalami hal-hal seperti ini maka cara untuk mencegahnya dapat berupa Relaksasi, dan humor. Akan tetapi, selain kedua hal tersebut ternyata islam juga mengajarkan jalan terbaik untuk mengatasi dan mencegahnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sesegera mungkin mengucapkan "istigfar" kepada Allah, dan kemudian membaca do’a "ta’awwud " agar terhindar dari gangguan setan.
" Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk".
2. Memikirkan beberapa pengabaran yang menyebutkan tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, lemah lembut dan menguasai diri.
Ada sebuah kisah yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi setiap individu, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu kepada Umar bin Khaththab. Setelah orang tersebut di izinkan, dia berkata," wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, kamu tidak memberi kami yang banyak dan kamu tidak membuat keputusan diantara kami secara adil."
Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Al-Hurr bin Qois segera berkata, "wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang a'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang
yang bodoh. (QS. 7:199)
dan dia adalah temasuk orang-orang yang bodoh." Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang tersebut setelah dibacakan ayat ini. Di dalam surat yang lain Allah juga berfirman mengenai keutamaan bagi orang yang mampu menahan amarah, memaafkan, lemah lembut dan menguasai diri.
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. 41:34-35)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:133-134)
3. Menakut-nakuti dirinya tentang siksa Allah
Dalam hal ini dia bisa berkata : "kekuasaan Allah atas diriku lebih besar dari pada kekuasaanku terhadap orang lain. Andaikata aku mengumbar amarahku, maka aku tidak akan aman jika Allah mengumbar amarah-Nya kepadaku pada hari kiamat, padahal aku sangat membutuhkan kepada ampunannya." Dengan seperti ini dia akan lebih memperkecil persentasinya untuk marah.
3. Menggambarkan keburukan rupanya disaat sedang marah
Ketika seseorang sedang marah dia akan sedikit malu jika dia mau melihat bentuk mukanya di depan kaca disaat sedang marah tersebut. Dia akan kelihatan lebih tua walaupun dia masih sangat muda, raut muka yang manis, cakep dan menawan akan hilang dalam sekejap disaat marah tersebut.
Setelah muncul rasa malu pada dirinya, saat itulah energi amarahnya akan berkurang dan kemungkinan besar dia tidak akan marah lagi pada saat itu.
4. Berwudlu
Di riwayatkan dari Abu Wa’il, dia berkata " suatu kali kami berada bersama Urwah bin Muhammad. Lalu muncul seseorang yang kemudian berbicara kepadanya yang akhirnya malah membuat Urwah marah besar. Lalu Urwah bangkit dan berwudlhu, kemudian Urwah datang lagi sambil berkata," ayahku mengabarkan kepadanya, dari kakekku, Athiyah (seorang sahabat), dia berkata, Rosulullah bersabda,
" sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan ari api, api hany bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah berwudlhu."
( HR Abu Daud, Ahmad dan Al-Baghawy)
5. Jika sebelumnya dia berdiri hendaklah duduk, jika sebelumnya duduk maka hendaknya dia berbaring dan menempelkan pipinya ke tanah.
Tentang duduk dan berbaring sambil menempelkan pipinya ketanah, boleh jadi itu adalah merupakan cara yang paling efektif untuk meredakan amarah seseorang. Karena cara seperti itulah yang lebih mendekatkan dirinya ke tanah, yang dari tanah itulah dia diciptakan, sehingga dia akan mengingat asal-muasalnya dan merasakan kerendahan dirinya. Rosulullah SAW bersabda:

"Siapa yang mulai merasakan sebagian dari amarah, maka hendaklah dia menempelkan pipinya ke tanah". ( HR Tirmidzy, Ahmad dan Al-Baghawy).
Abu Hurairah ra berkata: " apabila Rosulallah SAW marah dalam keadaan berdiri maka beliau duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk maka beliau berbaring lalu marahnya hilang". Kemudian Abu Sa’id al-khudri juga berkata: "ketahuilah bahwa sesungguhnya marah adalah bara didalam hati anak adam, dan tidaklah kamu tahu kedua matanya merah dan urat lehernya membengkak; maka barang siapa mengalami hal tersebut hendaklah dia menempelkan pipinya ketanah".
DAFTAR PUSTAKA
Alqu’an dan terjemahan
Nurdin, Muslim, dkk. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung : CV Alfabeta
Qudamah, Ibnu. 1999. Minhajul Qoshidin, jalan orang-orang yang mendapat petunjuk. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar
Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung: CV Pustaka Setia.
Nawawi, Imam. 2003. Riyadus Sholihin. Daar Ibnu Umar.
www.ebnomar.bizns.com
________________. Hadits Arba’in Nawawiyah. Solo : Al-Qowam
Hawwa, Said. 2004. Mensucikan jiwa. Jakarta : Robbani Press.