THE ISLAMIC METHODE OF COVERING
THE ENGER;
BAGAIMANA ISLAM MENGATASI SIFAT MARAH
Oleh: Husain, AM.
I. Hakikat Marah
Marah merupakan gejala emosional yang muncul dari dalam diri seseorang. yang kemudian nampak ke permukaan dalam berbagai bentuk perwujudaannya. Menurut imam Al-Ghazali, marah adalah nyala api yang bersumber dari api Allah, menyala berkobar-kobar menjulang tinggi sampai naik ke ulu hati, dan akhir muncul dalam bentuk gejala-gejala fisik baik dari perubahan warna muka, mata, telinga, sangat gugup, anggota badannya gemetar, gigi yang gemeretak, jalan mondar-mandir, lubang hidung membersar dan mengecil, dan mulut yang selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak terkendali.
Situasi seperti ini sangat eksplosif, berbahaya yang dapat menimbulkan akibat yang tidak disangka-sangka, karena ketika seorang yang sedang marah melihat benda-benda apa saja yang berada dihadapannya maka dia akan berusaha untuk menjamahnya dan menjadikannya sebagai sarana untuk melampiaskan kemarahannya.
Amarah merupakan bara dari api neraka yang di hembuskan oleh Setan kepada diri seseorang, ketika seseorang sedang dilanda suatu amarah berarti dia sedang disusupui oleh setan. Karena sebenarnya manusia tercipta dari Dua unsur yang tidak mempunyai sifat panas yang dapat menciptakan rasa marah tersebut, unsur manusia paling awal di dunia ini diciptakan dari tanah "min thin", yang kemudian di sempurnakan penciptaannya oleh Sang Pencipta dengan ditiupkan ruh kedalamnya. Allah berfirman dalam Surat As-Sajdah 7-9:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32:7-9)
dan didalam potongan sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda tentang proses penciptaan manusia setelah manusia pertama Adam as diciptakan:
" sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya empat puluh hari dalam bentuk mani, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula(40 hari), kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya. (HR Bukhori dan Muslim).
Kedua unsur "tanah dan ruh" inilah yang memberi ciri manusia yang secara simbolik selalu terombang ambing untuk jatuh ketanah (menjadi manusia berkepribadian rendah) atau naik menjadi manusia yang berkepribadian tinggi. Amarah adalah akibat dari unsur yang terdapat dalam api, Sifat keadaan tanah adalah diam dan tenang, sedangkan sifat keadaan api adalah panas, membara, bergerak-gerak dan meliuk-liuk. Ada pepatah yang mengatakan " jauhilah marah karena ia bisa merusak iman, sebagaimana racun yang bisa merusakm madu".
Orang yang sedang marah pada hakikatnya dia sedang di rasuki oleh hawa setan. Sebagaimana sudah dijelaskan diatas bahwa marah adalah sifat yang ditimbulkan dari unsur api, sedangkan unsur api itu terdapat pada setan dan tidak terdapat pada manusia.
" sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan ari api" ( HR Abu Daud, Ahmad dan Al-Baghawy)
Perlu diketahui bahwa hakekat marah adalah darah yang berada didalam hati yang mendidih karena mencari pelampiasan. Ketika seorang marah maka api amarahnya berkobar dan membuat darah yang berada didalam hatinya mendidih, lalu menyebar keseluruh nadi dan naik keseluruh badan, sebagaimana air yang naik ketika mendidih. Karena itu wajah, mata, dan raut mukanya terlihat memerah ketika marah. Semua itu mencerminkan merah darah yang tersembunyi di baliknya dan darahnya mulai turun jika amarahnya telah tertumpah kepada orang lain dan dia pun merasa tenang kembali.
II. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Orang Marah
Sangat manusiawi sekali orang yang mempunyai sifat marah. Orang akan lebih mudah marah bila dia merasa terganggu dengan tindakan orang lain yang dia anggap tidak mengenakannya. Biasanya sikap marah ini dia tunjukan sebagai respon terhadap tingkahlaku orang lain dengan raut muka yang tidak mengenakan untuk dipandang mata, perkataan ketus dan tidak enak didengar telinga.
Menurut Johanes Papu faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri seseorang (internal). Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu individu untuk marah. Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun kenangan pahit di masa lalu.
Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan.
Selain faktor diatas ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang sekali menjadi marah, dan dapat dibagi kedalam beberapa faktor sebagai berikut:
1. Genetik
Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun kehidupan sang anak. Pada anak-anak kemarahan bisa timbul karena adanya pengekangan yang dipaksakan. Biasanya kemarahan anak-anak tersebut timbul sebagai sambutan terhadap perasaan jengkel dan mendongkol yang telah menumpuk-numpuk. Semakin kecil seorang anak, semakin banyak pula persentase marahnya. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan anak dan bertambahnya usianya maka sedikit-demi sedikit persentase kemarahannya pun akan menurun.
Orang tua yang terlalu teliti dan telalu khawatir terhadap anaknya dapat menimbulkan rasa ketidaksukaan anak. Anak merasa sangat terhambat dalam pelaksanaan keinginan-keinginannya, yang kemudian mengakibatkan kemarahan anak. Sikap yang terlalu teliti lebih-lebih dalam mencari kesalahan dan kekurangan anak, sering menimbulkan perasaan putus asa anak yang mengandung sifat-sifat dendam yang tersalur melalui kemarahan.
2. Sosial-Budaya
Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.
3. Latarbelakang Keluarga
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang pula (workplaceblue.com). (http://www.e-psikologi.com/konseling/profil.htm) .
Novako (1986) mengemukakan bahwa amarah bisa dipahami sebagai reaksi terhadap suatu tekanan perasaan. Pada dasarnya adalah bahwa orang cenderung menjadi marah dan terdorong menjadi agresif jika terganggu. Novako berpendapat bahwa bukan hanya tekanan ekternal itu sendiri yang menimbulkan sifat marah, melainkan perasaan negatif yang ditimbulkan oleh tekanan itulah yang menghasilkan kecenderungan agresif dan marah.
III. Solusi untuk mengatasi sifat marah
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa obat setiap penyakit adalah mengkikis habis virus-virusnya dan menghilangkan faktor-faktor penyebabnya. Sedangkan sebab-sebab yang dapat membangkitkan rasa marah adalah: kesombongan, ujub, sendau gurau, kesia-siaan, pelencehan, pencibiran, perdebatan, pertengkaran, ambisi kepada harta dan jabatan dan lain sebagainya. Kesemuam itu adalah akhlaq yang buruk dan tercela dalam agama, dan orang tidak akan bisa terhindar dari sifat amarah selagi sebab-sebab tersebut masih ada pada dirinya.
Orang yang sedang marah dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan : (1) Low profile, (2) Hight profile, dan (3) Middle profile. Hight profile merupakan sifat yang tidak terpuji karena bisa membuat akal dan agama tidak tertata, sehingga dalam keadaan ini manusia tidak bisa memandang secara jernih, dan tidak bisa berpikir yang rasional. Orang-orang hight profile adalah orang yang selalu diperbudak oleh amarahnya, dia tidak bisa mengendalikan amarah yang sedang melanda dirinya.
Sementara low profile juga tercela karena tidak mempunyai kehormatan dan rasa cemburu, itu semua disebabkan karena ketidakadanya rasa amarah sama sekali dalam dirinya. Dan yang paling terbaik adalah golongan middle profile, golongan yang bisa menempatkan dan mengendalikan amarahnya. Dia tahu kapan dia harus marah dan dia juga tahu kapan sebaiknya dia harus bersikap lemah lembut.
Sifat marah tidak semuanya jelek dan salah, ada situasi-situasi tertentu yang justru memerlukan sifat marah ini. Sebagai salah satu contoh, ketika ada pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW dengan membuat kalikatur tentang Beliau, maka seharusnya dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk marah kepada pembuat kalikatur tersebut. Ketika dia tidak marah atau dia besifat acuh tak acuh saja dengan keadaan tersebut, maka sesungguhnya keimananya harus dikoreksi lagi. Karena sudah jelas hukum bagi orang yang menghina Nabi Muhammad SAW, mereka sudah kafir (murtad) dengan perbuatan mereka sendiri walaupun mereka memakai seribu alasan untuk mendukung perbuatan mereka, dan hukuman bagi orang yang telah keluar dari agama adalah diminta untuk bertaubat. Akan tetapi, jika dia enggan maka hukuman yang pantas baginya adalah dibunuh. Allah berfirman :
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab:"Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah:"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.
(QS. 9:66)
Rosulullah SAW bersabda:
" barang siapa yang telah menggati agamanya (murtad) maka bunuhlah dia." (HR Bukhori)
Jika seseorang sudah dikuasai sifat marah, maka semua tingkah lakunya akan sulit untuk dikendalikan lagi. Yang ada dalam benaknya adalah kemana dan bagaimana dia bisa melampiaskan rasa jengkel dan marahnya tersebut. Sifat marah tidak bisa dihilangkan dari diri seseorang, akan tetapi ketika seseorang sedang mengalami hal-hal seperti ini maka cara untuk mencegahnya dapat berupa Relaksasi, dan humor. Akan tetapi, selain kedua hal tersebut ternyata islam juga mengajarkan jalan terbaik untuk mengatasi dan mencegahnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sesegera mungkin mengucapkan "istigfar" kepada Allah, dan kemudian membaca do’a "ta’awwud " agar terhindar dari gangguan setan.
" Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk".
2. Memikirkan beberapa pengabaran yang menyebutkan tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, lemah lembut dan menguasai diri.
Ada sebuah kisah yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi setiap individu, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu kepada Umar bin Khaththab. Setelah orang tersebut di izinkan, dia berkata," wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, kamu tidak memberi kami yang banyak dan kamu tidak membuat keputusan diantara kami secara adil."
Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Al-Hurr bin Qois segera berkata, "wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang a'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang
yang bodoh. (QS. 7:199)
dan dia adalah temasuk orang-orang yang bodoh." Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang tersebut setelah dibacakan ayat ini. Di dalam surat yang lain Allah juga berfirman mengenai keutamaan bagi orang yang mampu menahan amarah, memaafkan, lemah lembut dan menguasai diri.
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. 41:34-35)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:133-134)
3. Menakut-nakuti dirinya tentang siksa Allah
Dalam hal ini dia bisa berkata : "kekuasaan Allah atas diriku lebih besar dari pada kekuasaanku terhadap orang lain. Andaikata aku mengumbar amarahku, maka aku tidak akan aman jika Allah mengumbar amarah-Nya kepadaku pada hari kiamat, padahal aku sangat membutuhkan kepada ampunannya." Dengan seperti ini dia akan lebih memperkecil persentasinya untuk marah.
3. Menggambarkan keburukan rupanya disaat sedang marah
Ketika seseorang sedang marah dia akan sedikit malu jika dia mau melihat bentuk mukanya di depan kaca disaat sedang marah tersebut. Dia akan kelihatan lebih tua walaupun dia masih sangat muda, raut muka yang manis, cakep dan menawan akan hilang dalam sekejap disaat marah tersebut.
Setelah muncul rasa malu pada dirinya, saat itulah energi amarahnya akan berkurang dan kemungkinan besar dia tidak akan marah lagi pada saat itu.
4. Berwudlu
Di riwayatkan dari Abu Wa’il, dia berkata " suatu kali kami berada bersama Urwah bin Muhammad. Lalu muncul seseorang yang kemudian berbicara kepadanya yang akhirnya malah membuat Urwah marah besar. Lalu Urwah bangkit dan berwudlhu, kemudian Urwah datang lagi sambil berkata," ayahku mengabarkan kepadanya, dari kakekku, Athiyah (seorang sahabat), dia berkata, Rosulullah bersabda,
" sesungguhnya amarah itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan ari api, api hany bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah berwudlhu."
( HR Abu Daud, Ahmad dan Al-Baghawy)
5. Jika sebelumnya dia berdiri hendaklah duduk, jika sebelumnya duduk maka hendaknya dia berbaring dan menempelkan pipinya ke tanah.
Tentang duduk dan berbaring sambil menempelkan pipinya ketanah, boleh jadi itu adalah merupakan cara yang paling efektif untuk meredakan amarah seseorang. Karena cara seperti itulah yang lebih mendekatkan dirinya ke tanah, yang dari tanah itulah dia diciptakan, sehingga dia akan mengingat asal-muasalnya dan merasakan kerendahan dirinya. Rosulullah SAW bersabda:
"Siapa yang mulai merasakan sebagian dari amarah, maka hendaklah dia menempelkan pipinya ke tanah". ( HR Tirmidzy, Ahmad dan Al-Baghawy).
Abu Hurairah ra berkata: " apabila Rosulallah SAW marah dalam keadaan berdiri maka beliau duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk maka beliau berbaring lalu marahnya hilang". Kemudian Abu Sa’id al-khudri juga berkata: "ketahuilah bahwa sesungguhnya marah adalah bara didalam hati anak adam, dan tidaklah kamu tahu kedua matanya merah dan urat lehernya membengkak; maka barang siapa mengalami hal tersebut hendaklah dia menempelkan pipinya ketanah".
DAFTAR PUSTAKA
Alqu’an dan terjemahan
Nurdin, Muslim, dkk. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung : CV Alfabeta
Qudamah, Ibnu. 1999. Minhajul Qoshidin, jalan orang-orang yang mendapat petunjuk. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar
Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung: CV Pustaka Setia.
Nawawi, Imam. 2003. Riyadus Sholihin. Daar Ibnu Umar. www.ebnomar.bizns.com
________________. Hadits Arba’in Nawawiyah. Solo : Al-Qowam
Hawwa, Said. 2004. Mensucikan jiwa. Jakarta : Robbani Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar